RSS

Kamis, 26 Desember 2013

Hidup ini indah dan diciptakan untuk kita nikmati. Bila mengetahui rahasia dan memiliki kuncinya, kehidupan sukses total bisa Anda nikmati. Siapapun Anda. Semua manusia diciptakan agar sukses di semua aspek kehidupannya, sampai saat mereka "kembali" nanti. Tidak ada orang yang ditakdirkan miskin atau menderita.


Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang ditentukan.
~   Qur'an: Al A'raf: 24   ~
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.
~   Qur'an: Al Hajj: 65   ~

peluang

aku menemukan sebuah soal dan belum bisa aku pecahkan

soal
peluang setiap manusia akan mati adalah ?



BANTU AKU MENJAWABNYA YAA....
TRIMS..

Rabu, 25 Desember 2013

CERPEN



APA AKU HARUS BERPALING ………..??
                                           oleh : Maulida Dharmawanti
Hari ini sungguh sangat indah. Bunga bermekaran di hati ku. Sungguh bahagia, aku telah menumukan sosok idaman yang ku tunggu, ku nanti, imamku. Hari itu adalah hari dimana aku menikah dengannya tepat tanggal 14  Febuari 1970. Pernikahan merupakan suatu yang telah ditunggu-tunggu setiap orang. Pernikahan juga dianggap untuk mengurangi dosa, karena dapat mencegah perbuatan zina dan fitnah. Pernikahan juga merupakan suatu ibadah. Namaku Siti, aku sungguh beruntung mendapatkan mas Rahmat suamiku. Dia adalah sosok imam yang sangat kompilt. Baik, soleh, dermawan, dan sayang sama aku.
            Sungguh terharu. Ketika dia mengucapkan “saya terima nikahnya Siti binti Yusuf dengan maskawin tersebut dibayar tunai”. Kebahagiaan yang hanya terjadi sekali ini akan ku pertahankan,
            Waktu terus mengalir seperti air. Sudah 25 tahun aku menjaga keharmonisan rumah tangga ini. Suamiku masih tetap seperti dulu, kini dia sering memberikan infaq atau semacam sedekah ke masjid maupun orang yang membutuhkan. 4 orang anak anugrah terindah yang pernah aku miliki. Mereka telah tumbuh dewasa. Aku pun semakin menua saja. Kini aku menyaksikan menyaksikan putra pertamaku Anam menikah. Sedih. Harus melepaskannya.
            2 tahun berlalu akhirnya aku diberi anugrah seorang cucu. Mungil dan cantik. Sekarang usianya baru 6 bulan. Waktu itu putraku dan istrinya berkunjung kerumahku dan mereka ingin sekali menghajikan aku dan suamiku (orang tuanya).
            “Bu, pak kami berdua ingin menghajikan bapak dan ibu bagaimana pendaat ibu dan bapak?”, kata putraku. Aku kaget mendengar niat mereka. Bahagia dan bangga.
            “kami ikut saran kalian tapi gimana dengan kondisi ibumu?”, jawab suamiku
            Waktu itu aku sedang mengalami sakit. Keputusan sekarang di tanganku mau ikut atau tidak. Akhirnya hanya suamiku yang menunaikan haji saja. Ingin. Ingin sekali aku ikut dengannya. Percuma aku hanya akan merepotinya sja disana apalagi kondisi sedang begini. Sedih. Hatiku menangis. Ku berfikir benak biarlah suamiku dulu yang menjalankan kewajiban itu.
            Tibalah saatnya suamiku berangkat ke tanah suci. Segenap keluarga turut serta mengantarkannya samapai bandara. “Hati-hati pak , ibu disini senantiasa mendoakanmu”, tetes air mataku.
            ”iya bu, ibu baik-baik disini”, pesannya
            Akhirnya suamiku tiba di rumah. Segenap syukuran pun diadakan. Setalah syukuran selesai suamiku menceritakan suatu kejadian dalam perjalanannya.
            “Bu, bapak tu heran, setiap bapak dapet lauk ayam atau daging bapak tu selalu dapat yang kecil looo padahal yang lainnya dapatnya besar”, cerita suamiku
            “masa’ si ya udah jangan dipermasalahkan yang penting bapak dah pulang dengan selamat, sekarang mending bapak istirahat saja”, senyumku.
            Berapa bulan telah berlalu suamiku masih dengan prinsipnya yang selalu mengutamakan sedekah atau infaqnya. Entah kenapa ini sangat berbeda dengan dulu. Sangat tegas dank eras, itulah suamiku sekarang. Aku rasa dia yang sekarang agak perhitungan dengan uang pada keluarga.
            Anak bungsuku mengadu padaku,” ibu, aku mau cerita tetang bapak?”
            “Ada apa dengan bapakmu nak?” jawabku penasaran
            “Gini lo bu, masa’ aku minta uang 20.000, bapak nggak dikasih. Padahal aku butuh uang itu buat jajan pas besok acara sekolah”, ceritanya
Dunia seperti berhenti berputar. Pikranku tak karuan mendengar anakku bercerita begitu padaku. Kaget mendengarnya. Tak percaya. Sungguh tidak percaya mendengar ceritanya tapi dia tak mungkin bohong kepadaku. Dia anak yang baik, anak yang tak bias berbohong, terutama kepadaku. Aku hanya bisa diam tanpa sepatah katapun keluar dari bibirku.
Tiba-tiba anakku memegang tanganku, “bu……kenapa ibu ngelamaun?”.
“Nggak apa nak…”, jawabku.
Waktu silih berganti hari-hariku berjalan dengan perubahan sifat suamiku. Entah apa yang membuatnya berubah. Sulit dimengerti. Apa ini salahku?. Apa aku istri yang nggak bejus ngurus suami?. Bingung.
Kejadian itu berulang lagi aku mendengarnya dari anak keduaku. Ketika suamiku ingin sedekah ke Masjid. Dia tidak bisa datang sendiri untuk menyerahkan uangnya. Dan akhirnya ia menyuruh anak kedua kami untuk memberi uangnya ke Masjid. Dia bilang ke anak kedua kami, “Hey jangan lupa bilang itu uang dari pak RAHMAT”.
Setelah anak kedua kami menyerahkan uangnya. Keesokan harinya ada seorang yang mengurusi uang sedekah itu lewat depan rumah kami. Suamiku langsung bicara ,“ pak…pak pak gimana uang sedekah dari saya dah nyampe kan….?”.
“ohhh udah pak rahmat…??” jawabnya.
Astaghfirulloh bisa-bisanya suamiku begitu. Tidak percaya pada anaknya sendiri. Dan kenapa dia sering member sedekah sedangkan anaknya tidak pernah diberi sepersenpun uang?. Dia telah berubah.
Matahari telah terbenam hilang dari pandangan mendatangkan kegelapan malam. Aku mencoba untuk bertanya kepada suamiku. Saat itu kami, anak kedua, dan ketiga berkumpul diruang keluarga. Sunyi. Tak ada 1 orang pun yang bicara. Serasa seperti orang asing yang belum kenal satu sama lain.
Akupun memulai pembicaraan “ pak…. Sifat bapak sekarang kok aneh ya?”
“aneh gimana biasa aja tuhh, bapak tu hanya mengajarkan kepada kalian mandiri cari uang sendiri jangan selalu minta ke bapak” marah.
“ pak kita tu masih sekolah, masa’ minta uang 20.000 tow 10.000 nggak dikasih”,putra keduaku angkat bicara
“ibu juga uang ibu tuh buat buat dapur, uang ibu ya uang ibu,uang bapak ya uang bapak” , tak menanggapi anak keduaku. Dia pun meninggalkan kami dan masuk kekamar.
Air mataku mengalir deras. Tak bisa terbendung lagi. Kenapa suamiku begini.
Setelah pembicaraan tersebut aku dan suamiku jarang bicara, jarang makan satu meja. Yang dia katakana kemarin sungguh prinsipnya telah berubah. Uangku uangku uangmu ya uangmu. Aku berpikir bukankah seharusnya uangku juga uangmu dan uangmu juga uangku. Kenapa ?.
Beberapa hari kemudian aku mencoba bicara lagi dengannya tapi apa yang aku dapat. Pukulan. Tamparan. Benar,dia telah berubah. Rumah tanggaku yang dulu harmonis tentram. Sekarang hancur begitu saja. Aku sudah tak sanggup lagi menghadapinya. Anak-anak juga sudah mulai benci terhadapnya, Karena sikapnya yang suka memukulku dan pelit itu. Dia pelit kepada kami, tapi tidak dengan orang lain apalagi dengan sedekahnya. Dia selalu mengutamakan sedekah dari pada keluarganya sendiri.
Akhirnya setelah ku mengalami kekerasan rumah tangga, akupun meninggalkan rumah bersama anak bungsuku. Takut rasanya bertemu dengan suami. Aku terus berfikir kenapa suamiku berubah apa yang membuatnya berubah. Apa yang membuat dia berubah. Hanya itulah yang ada dipikiranku sekarang. Tapi aku tidak boleh memikirkan suamiku terus, anak bungsuku membutuhkan ku. Kasih sayang. Menyedihkan, anak bungsuku mengalami masa-mas mudanya dengan melihat orang tuanya bertengkar.
Selama aku tidak di rumah aku tinggal ditempat saudaraku sekaligus juga tetanggaku. Selang beberapa hari, Anam mengetahui kabar ini dan dia berkunjung ke rumah kami. Sebenarnya Anam sekarang tinggal di Jawa dan aku, suamiku, dan ketiga anak ku di Sumatra.
Dia berkunjung dan bertanya pada ku dahulu sebelum dia bertanya pada suamiku (bapaknya)
            Aku menceritakan semua yang terjadi semenjak Anam berpisah dengan ku mulai dari si bungsu tidak diberi uang jajan, tentang sedekahnya, tidak percaya dengan anaknya sendiri, tentang suamiku bilang uangku uangku dan uangmu uangmu, dan hingga akhirnya suamiku memukulku.
            Anakku hanya bisa mendengarkan ceritaku. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Dan akhirnya dia bilang “begitu ya buu, ibu yang sabar ya aku akan mencoba bicara sama bapak”.
            “iya semoga kamu dapat meluluhkan hatinya”, ucapku.
            Anam adalah satu-satunya anak yang bisa mengerti apa yang suamiku mau. Dan suamiku juga paling dekat sam Anam. Semoga saja dia sadar dengan apa yang telah dilakukannya.
            Keesokan harinya Anam kembali menemuiku di rumah saudara. Anam pun menceritakan apa yang suamiku ceritakan kepada Anam. Kaget. Tidak percaya. Ketika apa yang suamiku ceritakan kepada Anam beda dengan apa yang terjadi. Anam pun bingung. Tak tau mana yang harus dipercaya. Aku hanya bisa menangis mendengar semua itu. Anam pun menyuruhku kembali pulang ke rumah.
            Sudah seminggu Anam di Sumatra untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Sungguh mengejutkan. Selama Anam di rumah, suamiku tidak bertingkah kasar. Dia sangat baik dan dia juga makan bersama ku dan anak-anak.
            Setelah beberapa hari Anam pun pulang ke Jawa. Dia harus mengajar, tak mungkin dia tinggal di Sumatra lebih lama lagi. Dia punya tanggung jawab sebagai guru dan kepala keluarga.
            Di Jawa, Anam menceritakan kepada adik-adik dari suamiku. Karena dia tak tau apa yang harus dilakukannya. Dia tak bisa menyelesaikan permasalahan ini. Dia juga kebingungan cerita mana yang benar antara ceriaku denga cerita suamiku.
            Aku yang di Sumatra juga sudah tak tahan lagi. Dan akhirnya aku bercerita dengan salah satu adik dari suamiku. Aku menceritakan semua apa yang aku pendam selama ini. Sebenarnya sebelum aku cerita mereka sudah mengetahuinya dari Anam tapi mereka ingin tau cerita  dari aku sendiri. mereka juga menelpon suamiku dan bertanya cerita sebenarnya tapi tetap saja cerita suamiku berbeda dengan ceritaku. setelah mereka mendengar ceritaku dan suamiku, kemudian semua anggota keluarga di Jawa mendiskusikan masalah ini dan memberitahukan ke ibu mertuaku (ibu dari suamiku).
            Beberapa hari setelah mereka berdiskusi akhirnya mereka memutuskan bahwa mereka harus berangkat ke Sumatra bersama ibu mertuaku.
            Aku, suamiku, dan anak-anakku menyambut keluarga dari Jawa. Sifat suamiku biasa saja. Terlihat seperti tak ada masalah sama sekali. Aku bingung dengan sikapnya itu. Kadang baik. Kadang kasarnya minta ampun. Tapi aku pun tak boleh menunjukan wajah sedih ku  kepada mereka terutama kepada ibu mertuaku. Seperti biasa sikap suami ku selalu baik jika ada tamu berkunjung.semenjak ada ibu mertuaku di rumah kami, suamiku selalu bersikap baik. Bahkan suamiku sampai menyapu lantai yang kotor. Biasanya rokok di almari dekatnya pun aku disuruh mengambilkannya, walau dia yang lebih dekat tetap saja dia menyuruhku untuk mengambilkannya.
            Setelah beberapa hari adik-adik dari suamiku dan ibu mertuaku di rumah. Suasana rumah jadi sangat menyenangkan. Tawa canda selalu menyelimuti obrolan kami. Tapi tak mungkin menyuruh mereka untuk menetap tinggal di rumah atau di Sumatra, mereka punya kehidupan sendiri, tidak hanya mengurus dan menghiburku. Tak apalah setidaknya mereka cukup membuatku sejenak melupakan kejadian itu.
            Satu minggu sudah mereka di rumah. Tiba saatnya mereka kembali ke rumah masing-masing. Berat rasanya ditinggal mereka sedih, takut akan kejadian itu terulang lagi. Tpi aku harus tetap senyum dihadapan mereka. Agar tak membuat mereka cemas.
            Setalah keluarga suamiku pulang. Benar saja hal itu terjadi lagi. Kami sedang makan siang bersama-sam, aku kira suamiku telah kembali seperti dulu lagi setelah dia di nasehati oleh ibunya (ibu mertuaku). Aku sempat merasa senang. Tapi apa yang terjadi ketika kami mau makan tiba-tiba,” buuhhh (sembur), makanan apa ini mau bunuh aku pow? “, teriak suamiku
            “ke…kenapa mas?? Ada yang salah dengan masakannya? Nggak enak ya???” , Tanyaku gagap.
            “plaaakkkkk !!!”.
            Suamiku menamparku tanpa alas an yang kuat pertanyaan yang ku ajukan pun tak da yang di jawabnya. Aku hanya menangis. Dan anak-anakku menyaksikanya pun tak terima akan kelakuan suamiku kepadaku.
            “ Bapak ini kenapa sih tiba-tiba menampar ibu kaya gitu! Padahalkan masakannya enak!” komplain anak keduaku.
            “ ahh anak kecil nggak usah ikut campur tau apa kamu?” sahut suamiku marah.
            Tiba-tiba anak keduaku mengampiri suamiku. Dia ingin memukul suamiku. Emosinya tak bisa terbendung lagi. Sudah cukup dia menahan rasa sakit itu. Tapi seketika suamiku langsung keluar minta tolong ke tetangga dan bilang bahwa dia mau dibunuh oleh anak kedua. Aku yang sedang mengis langsung memeluk anak ku yang sedang marah besar pada suamiku. Dan aku pun berkata,” sabar nak bagaimana pun itu bapak mu.”
            “ Tapi buu….?” Anak ku menentang.
            Tak sanggup aku menahan beban yang ku pikul dipundak. Inginku meletakkannya disuatu tempat agar ku dapat bergerak bebas. Dalam hatiku terus memikirkan kejadian-kejadian itu. Sudah banyak luka yang menghiasi hatiku. Apa aku harus berpaling dari suamiku yang dulu selalu ku puji=puji?. Kata-kata itu masih terbayang-bayang di kepala ku. Hingga pandangan ku gelap. Suara mulai menghilang tak terdengar lagi di telingaku. Sempat ku mendengar sejenak suara anak kedua ,“ Bu…. Bu..!!!

Selasa, 24 Desember 2013

KEJADIAN KAWAH SINILA











   


Sinila terletak di Desa Dieng Wetan. Kawah Sinila pernah meletus pada pagi hari tahun 1979, tepatnya 20 Februari 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun kemudian terperangkap gas yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila. Sejumlah warga (149 jiwa) dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman.

Senin, 23 Desember 2013

makanan dan oleh-oleh khas dieng batur

1. keripik kentang

2. keripik jamur

3. carica

4. jipang

5. purwaceng


ayo berkunjung dan rasakan kelezatan makanan khas dieng batur
SELAMAT MENCOBA ....

objek wisata dataran tinggi dieng

1. bukit sikunir
sikunir dieng bukit sikunir dieng
2. kawah sikidang
sikidang
3. telaga warna
warna
4. candi dieng
candi arjuna dieng


dan masih banyak objek wisata lainnya
ayoo berkunjung...........

Jumat, 20 Desember 2013

diriku



aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana, aku dilahirkan disebuah desa bernama Batur mungkin jarang dikenal banyak orang tapi kalau aku ditanya aku dari mana aku selalu menjawab aku berasal dari Dataran tinggi Dieng.
 sekarang ini aku merantau ke Yogyakarta untuk belajar, aku kuliyah di Universitas Ahmad Dahlan.
aku mengambil pendidikan matematika, meski orang sering menganggap matematika itu menyulitkan.
awal mulai aku menyukai matematika adalah saat dimana aku kelas 3 SD.
aku ingat waktu itu aku disuruh maju kedepan untuk mengerjakan soal pembagian dengan cara "porogapet" waktu itu aku g bisa ngerjainnya sampai-sampai aku mendapat pukulan walau g keras tapi cukup sakit untuk kelas 3 SD. dari situlah aku menyukai Matematika.
mungkin ini cerita singkat tetangku yang sekarang menyukai Matematika