APA
AKU HARUS BERPALING ………..??
oleh : Maulida Dharmawanti
Hari
ini sungguh sangat indah. Bunga bermekaran di hati ku. Sungguh bahagia, aku
telah menumukan sosok idaman yang ku tunggu, ku nanti, imamku. Hari itu adalah
hari dimana aku menikah dengannya tepat tanggal 14 Febuari 1970. Pernikahan merupakan suatu yang
telah ditunggu-tunggu setiap orang. Pernikahan juga dianggap untuk mengurangi
dosa, karena dapat mencegah perbuatan zina dan fitnah. Pernikahan juga
merupakan suatu ibadah. Namaku Siti, aku sungguh beruntung mendapatkan mas
Rahmat suamiku. Dia adalah sosok imam yang sangat kompilt. Baik, soleh,
dermawan, dan sayang sama aku.
Sungguh terharu. Ketika dia
mengucapkan “saya terima nikahnya Siti binti Yusuf dengan maskawin tersebut
dibayar tunai”. Kebahagiaan yang hanya terjadi sekali ini akan ku pertahankan,
Waktu terus mengalir seperti air.
Sudah 25 tahun aku menjaga keharmonisan rumah tangga ini. Suamiku masih tetap
seperti dulu, kini dia sering memberikan infaq atau semacam sedekah ke masjid
maupun orang yang membutuhkan. 4 orang anak anugrah terindah yang pernah aku
miliki. Mereka telah tumbuh dewasa. Aku pun semakin menua saja. Kini aku
menyaksikan menyaksikan putra pertamaku Anam menikah. Sedih. Harus
melepaskannya.
2 tahun berlalu akhirnya aku diberi
anugrah seorang cucu. Mungil dan cantik. Sekarang usianya baru 6 bulan. Waktu
itu putraku dan istrinya berkunjung kerumahku dan mereka ingin sekali
menghajikan aku dan suamiku (orang tuanya).
“Bu, pak kami berdua ingin menghajikan
bapak dan ibu bagaimana pendaat ibu dan bapak?”, kata putraku. Aku kaget
mendengar niat mereka. Bahagia dan bangga.
“kami ikut saran kalian tapi gimana
dengan kondisi ibumu?”, jawab suamiku
Waktu itu aku sedang mengalami
sakit. Keputusan sekarang di tanganku mau ikut atau tidak. Akhirnya hanya
suamiku yang menunaikan haji saja. Ingin. Ingin sekali aku ikut dengannya.
Percuma aku hanya akan merepotinya sja disana apalagi kondisi sedang begini.
Sedih. Hatiku menangis. Ku berfikir benak biarlah suamiku dulu yang menjalankan
kewajiban itu.
Tibalah saatnya suamiku berangkat ke
tanah suci. Segenap keluarga turut serta mengantarkannya samapai bandara.
“Hati-hati pak , ibu disini senantiasa mendoakanmu”, tetes air mataku.
”iya bu, ibu baik-baik disini”,
pesannya
Akhirnya suamiku tiba di rumah. Segenap
syukuran pun diadakan. Setalah syukuran selesai suamiku menceritakan suatu
kejadian dalam perjalanannya.
“Bu, bapak tu heran, setiap bapak
dapet lauk ayam atau daging bapak tu selalu dapat yang kecil looo padahal yang
lainnya dapatnya besar”, cerita suamiku
“masa’ si ya udah jangan
dipermasalahkan yang penting bapak dah pulang dengan selamat, sekarang mending
bapak istirahat saja”, senyumku.
Berapa bulan telah berlalu suamiku
masih dengan prinsipnya yang selalu mengutamakan sedekah atau infaqnya. Entah
kenapa ini sangat berbeda dengan dulu. Sangat tegas dank eras, itulah suamiku
sekarang. Aku rasa dia yang sekarang agak perhitungan dengan uang pada
keluarga.
Anak bungsuku mengadu padaku,” ibu,
aku mau cerita tetang bapak?”
“Ada apa dengan bapakmu nak?”
jawabku penasaran
“Gini lo bu, masa’ aku minta uang
20.000, bapak nggak dikasih. Padahal aku butuh uang itu buat jajan pas besok
acara sekolah”, ceritanya
Dunia
seperti berhenti berputar. Pikranku tak karuan mendengar anakku bercerita
begitu padaku. Kaget mendengarnya. Tak percaya. Sungguh tidak percaya mendengar
ceritanya tapi dia tak mungkin bohong kepadaku. Dia anak yang baik, anak yang
tak bias berbohong, terutama kepadaku. Aku hanya bisa diam tanpa sepatah
katapun keluar dari bibirku.
Tiba-tiba
anakku memegang tanganku, “bu……kenapa ibu ngelamaun?”.
“Nggak
apa nak…”, jawabku.
Waktu
silih berganti hari-hariku berjalan dengan perubahan sifat suamiku. Entah apa
yang membuatnya berubah. Sulit dimengerti. Apa ini salahku?. Apa aku istri yang
nggak bejus ngurus suami?. Bingung.
Kejadian
itu berulang lagi aku mendengarnya dari anak keduaku. Ketika suamiku ingin
sedekah ke Masjid. Dia tidak bisa datang sendiri untuk menyerahkan uangnya. Dan
akhirnya ia menyuruh anak kedua kami untuk memberi uangnya ke Masjid. Dia
bilang ke anak kedua kami, “Hey jangan lupa bilang itu uang dari pak RAHMAT”.
Setelah
anak kedua kami menyerahkan uangnya. Keesokan harinya ada seorang yang
mengurusi uang sedekah itu lewat depan rumah kami. Suamiku langsung bicara ,“
pak…pak pak gimana uang sedekah dari saya dah nyampe kan….?”.
“ohhh
udah pak rahmat…??” jawabnya.
Astaghfirulloh
bisa-bisanya suamiku begitu. Tidak percaya pada anaknya sendiri. Dan kenapa dia
sering member sedekah sedangkan anaknya tidak pernah diberi sepersenpun uang?.
Dia telah berubah.
Matahari
telah terbenam hilang dari pandangan mendatangkan kegelapan malam. Aku mencoba
untuk bertanya kepada suamiku. Saat itu kami, anak kedua, dan ketiga berkumpul
diruang keluarga. Sunyi. Tak ada 1 orang pun yang bicara. Serasa seperti orang
asing yang belum kenal satu sama lain.
Akupun
memulai pembicaraan “ pak…. Sifat bapak sekarang kok aneh ya?”
“aneh
gimana biasa aja tuhh, bapak tu hanya mengajarkan kepada kalian mandiri cari
uang sendiri jangan selalu minta ke bapak” marah.
“
pak kita tu masih sekolah, masa’ minta uang 20.000 tow 10.000 nggak
dikasih”,putra keduaku angkat bicara
“ibu
juga uang ibu tuh buat buat dapur, uang ibu ya uang ibu,uang bapak ya uang
bapak” , tak menanggapi anak keduaku. Dia pun meninggalkan kami dan masuk
kekamar.
Air
mataku mengalir deras. Tak bisa terbendung lagi. Kenapa suamiku begini.
Setelah
pembicaraan tersebut aku dan suamiku jarang bicara, jarang makan satu meja.
Yang dia katakana kemarin sungguh prinsipnya telah berubah. Uangku uangku
uangmu ya uangmu. Aku berpikir bukankah seharusnya uangku juga uangmu dan
uangmu juga uangku. Kenapa ?.
Beberapa
hari kemudian aku mencoba bicara lagi dengannya tapi apa yang aku dapat.
Pukulan. Tamparan. Benar,dia telah berubah. Rumah tanggaku yang dulu harmonis
tentram. Sekarang hancur begitu saja. Aku sudah tak sanggup lagi menghadapinya.
Anak-anak juga sudah mulai benci terhadapnya, Karena sikapnya yang suka
memukulku dan pelit itu. Dia pelit kepada kami, tapi tidak dengan orang lain
apalagi dengan sedekahnya. Dia selalu mengutamakan sedekah dari pada
keluarganya sendiri.
Akhirnya
setelah ku mengalami kekerasan rumah tangga, akupun meninggalkan rumah bersama
anak bungsuku. Takut rasanya bertemu dengan suami. Aku terus berfikir kenapa
suamiku berubah apa yang membuatnya berubah. Apa yang membuat dia berubah.
Hanya itulah yang ada dipikiranku sekarang. Tapi aku tidak boleh memikirkan
suamiku terus, anak bungsuku membutuhkan ku. Kasih sayang. Menyedihkan, anak bungsuku
mengalami masa-mas mudanya dengan melihat orang tuanya bertengkar.
Selama
aku tidak di rumah aku tinggal ditempat saudaraku sekaligus juga tetanggaku.
Selang beberapa hari, Anam mengetahui kabar ini dan dia berkunjung ke rumah
kami. Sebenarnya Anam sekarang tinggal di Jawa dan aku, suamiku, dan ketiga
anak ku di Sumatra.
Dia berkunjung
dan bertanya pada ku dahulu sebelum dia bertanya pada suamiku (bapaknya)
Aku menceritakan semua yang terjadi
semenjak Anam berpisah dengan ku mulai dari si bungsu tidak diberi uang jajan,
tentang sedekahnya, tidak percaya dengan anaknya sendiri, tentang suamiku
bilang uangku uangku dan uangmu uangmu, dan hingga akhirnya suamiku memukulku.
Anakku hanya bisa mendengarkan
ceritaku. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Dan akhirnya dia
bilang “begitu ya buu, ibu yang sabar ya aku akan mencoba bicara sama bapak”.
“iya semoga kamu dapat meluluhkan
hatinya”, ucapku.
Anam adalah satu-satunya anak yang
bisa mengerti apa yang suamiku mau. Dan suamiku juga paling dekat sam Anam.
Semoga saja dia sadar dengan apa yang telah dilakukannya.
Keesokan harinya Anam kembali
menemuiku di rumah saudara. Anam pun menceritakan apa yang suamiku ceritakan
kepada Anam. Kaget. Tidak percaya. Ketika apa yang suamiku ceritakan kepada
Anam beda dengan apa yang terjadi. Anam pun bingung. Tak tau mana yang harus
dipercaya. Aku hanya bisa menangis mendengar semua itu. Anam pun menyuruhku
kembali pulang ke rumah.
Sudah seminggu Anam di Sumatra untuk
mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Sungguh mengejutkan. Selama Anam di
rumah, suamiku tidak bertingkah kasar. Dia sangat baik dan dia juga makan
bersama ku dan anak-anak.
Setelah beberapa hari Anam pun
pulang ke Jawa. Dia harus mengajar, tak mungkin dia tinggal di Sumatra lebih
lama lagi. Dia punya tanggung jawab sebagai guru dan kepala keluarga.
Di Jawa, Anam menceritakan kepada
adik-adik dari suamiku. Karena dia tak tau apa yang harus dilakukannya. Dia tak
bisa menyelesaikan permasalahan ini. Dia juga kebingungan cerita mana yang benar
antara ceriaku denga cerita suamiku.
Aku yang di Sumatra juga sudah tak
tahan lagi. Dan akhirnya aku bercerita dengan salah satu adik dari suamiku. Aku
menceritakan semua apa yang aku pendam selama ini. Sebenarnya sebelum aku
cerita mereka sudah mengetahuinya dari Anam tapi mereka ingin tau cerita dari aku sendiri. mereka juga menelpon
suamiku dan bertanya cerita sebenarnya tapi tetap saja cerita suamiku berbeda
dengan ceritaku. setelah mereka mendengar ceritaku dan suamiku, kemudian semua
anggota keluarga di Jawa mendiskusikan masalah ini dan memberitahukan ke ibu
mertuaku (ibu dari suamiku).
Beberapa hari setelah mereka
berdiskusi akhirnya mereka memutuskan bahwa mereka harus berangkat ke Sumatra
bersama ibu mertuaku.
Aku, suamiku, dan anak-anakku menyambut
keluarga dari Jawa. Sifat suamiku biasa saja. Terlihat seperti tak ada masalah
sama sekali. Aku bingung dengan sikapnya itu. Kadang baik. Kadang kasarnya
minta ampun. Tapi aku pun tak boleh menunjukan wajah sedih ku kepada mereka terutama kepada ibu mertuaku.
Seperti biasa sikap suami ku selalu baik jika ada tamu berkunjung.semenjak ada
ibu mertuaku di rumah kami, suamiku selalu bersikap baik. Bahkan suamiku sampai
menyapu lantai yang kotor. Biasanya rokok di almari dekatnya pun aku disuruh
mengambilkannya, walau dia yang lebih dekat tetap saja dia menyuruhku untuk
mengambilkannya.
Setelah beberapa hari adik-adik dari
suamiku dan ibu mertuaku di rumah. Suasana rumah jadi sangat menyenangkan. Tawa
canda selalu menyelimuti obrolan kami. Tapi tak mungkin menyuruh mereka untuk
menetap tinggal di rumah atau di Sumatra, mereka punya kehidupan sendiri, tidak
hanya mengurus dan menghiburku. Tak apalah setidaknya mereka cukup membuatku
sejenak melupakan kejadian itu.
Satu minggu sudah mereka di rumah.
Tiba saatnya mereka kembali ke rumah masing-masing. Berat rasanya ditinggal
mereka sedih, takut akan kejadian itu terulang lagi. Tpi aku harus tetap senyum
dihadapan mereka. Agar tak membuat mereka cemas.
Setalah keluarga suamiku pulang.
Benar saja hal itu terjadi lagi. Kami sedang makan siang bersama-sam, aku kira
suamiku telah kembali seperti dulu lagi setelah dia di nasehati oleh ibunya
(ibu mertuaku). Aku sempat merasa senang. Tapi apa yang terjadi ketika kami mau
makan tiba-tiba,” buuhhh (sembur), makanan apa ini mau bunuh aku pow? “, teriak
suamiku
“ke…kenapa mas?? Ada yang salah
dengan masakannya? Nggak enak ya???” , Tanyaku gagap.
“plaaakkkkk !!!”.
Suamiku menamparku tanpa alas an
yang kuat pertanyaan yang ku ajukan pun tak da yang di jawabnya. Aku hanya
menangis. Dan anak-anakku menyaksikanya pun tak terima akan kelakuan suamiku
kepadaku.
“ Bapak ini kenapa sih tiba-tiba
menampar ibu kaya gitu! Padahalkan masakannya enak!” komplain anak keduaku.
“ ahh anak kecil nggak usah ikut
campur tau apa kamu?” sahut suamiku marah.
Tiba-tiba anak keduaku mengampiri
suamiku. Dia ingin memukul suamiku. Emosinya tak bisa terbendung lagi. Sudah
cukup dia menahan rasa sakit itu. Tapi seketika suamiku langsung keluar minta
tolong ke tetangga dan bilang bahwa dia mau dibunuh oleh anak kedua. Aku yang
sedang mengis langsung memeluk anak ku yang sedang marah besar pada suamiku.
Dan aku pun berkata,” sabar nak bagaimana pun itu bapak mu.”
“ Tapi buu….?” Anak ku menentang.
Tak sanggup aku menahan beban yang
ku pikul dipundak. Inginku meletakkannya disuatu tempat agar ku dapat bergerak
bebas. Dalam hatiku terus memikirkan kejadian-kejadian itu. Sudah banyak luka
yang menghiasi hatiku. Apa aku harus berpaling dari suamiku yang dulu selalu ku
puji=puji?. Kata-kata itu masih terbayang-bayang di kepala ku. Hingga pandangan
ku gelap. Suara mulai menghilang tak terdengar lagi di telingaku. Sempat ku
mendengar sejenak suara anak kedua ,“ Bu…. Bu..!!!

3 komentar:
lanjutkan berkarya
:)
hayo mau berpaling ke siapa tu?????
Posting Komentar